Selasa, 08 Juli 2014

Taman Sari Water Palace, Yogyakarta

     Sudah sejak akhir pekan yang lalu aku dan Getih berencana mengunjungi Taman Sari di Yogyakarta. Kami gagal mengunjungi lokasi Taman Sari karena sudah terlalu sore. Dengan hati kecewa kami pun pulang ke Salatiga tanpa bisa mampir ke lokasi yang tutup pukul 15.30 WIB. Tetapi dengan sabar kami menunggu akhir minggu berikutnya dan berencana berangkat lebih awal agar bisa masuk ke lokasi.
Kali ini kami tidak berwisata berdua saja, ada Mas Buyung dan Mbak Pilla yang berdomisili di Yogyakarta yang akan mengantar kami. Kami tiba di kota Yogyakarta sudah siang sekitar jam 11.00 AM dan langsung makan siang di bakso yang gede banget di dekat rumah Mbak Pilla hehehehe. Setelah kenyang kami pun berangkat ke lokasi Taman Sari berbekal Maps yang selalu menemani.

Pintu masuk Taman Sari
     Taman Sari atau yang sering disebut dengan Taman Sari Water Palace ini terletak di Jl. Taman, Kraton, Kota Yogyakarta. Pengunjung bisa mulai memasuki lokasi Taman Sari ini dari Pukul 09.00 - 15.30 WIB. Kami mengandalkan Maps kami dan dengan mantap mengikuti petunjuknya. Kami cukup heran ketika Maps membawa kami memasuki gang-gang kecil dengan rumah-rumah yang cukup rapat. Apa iya ini jalan yang benar? Tak lama kemudian panah penunjuk di Maps sudah berada tepat di lokasi. Setelah melewati gerbang rendah kami pun terkejut karena ternyata kami sudah berada di dalam lokasi Taman Sari. Empat orang linglung dengan motor masuk ke tengah-tengah lokasi Taman Sari hahahahahaha. Setelah bertanya kepada seorang penjaga kami pun memutar arah untuk menuju tempat parkir sepeda motor. Akhirnya kami bisa lewat jalan yang benar dan memasuki lokasi Taman Sari dengan benar pula. Dengan tiket di tangan kami pun segera memasuki Taman Sari. Kami sempat bertemu doa bocah kecil yang rumahnya berada di sekitar lokasi Taman Sari ini. Mereka sedang sibuk mencari cara menurunkan sandal mereka yang tersangkut di pohon. Entah permainan apa yang mereka lakukan sampai-sampai sandalnya bisa tersangkut hahahahaha. Setelah membantu mereka mendapatkan sandal mereka kembali, kami pun melanjutkan perjalanan.

Getih bersama dua bocah lokal
     Taman Sari ini dibangun menggunakan pasir, putih telur dan air kelapa pada tahun 1756 dan selesai pada tahun 1765 pada masa pemerintahan Hamengkubuwono I. Ada sebuah lapangan kecil yang dulunya digunakan untuk tempat berkumpulnya para abdi dalem kerajaan pada hari pembagian upah. 


     Setelah memasuki gerbang kami dapat melihat kolam pemandian. Kolam pemandian ini dibagi menjadi tiga yaitu Umbul Kawitan yang digunakan oleh putra-putri Raja, Umbul Pamuncar yang diperuntukan bagi selir-selir dan Kolam Panguras yang digunakan khusus oleh Raja. 

Umbul Kawitan dan Umbul Pamuncar
Umbul Panguras

     Diantara kolam-kolam ini terdapat bangunan peristirahatan Raja. Di sisi kiri adalah kamar Raja yang tempat tidurnya terbuat dari bahan-bahan yang sama dengan bangunan Taman Sari itu sendiri dengan beberapa lubang kolong untuk memasukan arang sebagai penghangat ruangan dan tempat meletakan wewangian. Dahulu, dipannya terbuat dari bambu sehingga lentur dan dialasi oleh bantalan bulu angsa. Menurut yang aku amati, tidak banyak ornamen yang menghiasi dinding-dinding bangunan. Hanya pola pohon dan daun-daun serta burung-burung yang menghiasi beberapa dinding bangunan.


Pintu masuk kamar RajaTempat tidur Raja


     Sisi kanan bangunan atau seberang kamar Raja terdapat kamar ganti dengan rak-rak kayu. Kami menyempatkan diri menaiki tingkat dua bangunan ini. Tangga kayunya berada tepat di tengah-tengah antara kamar Raja dan ruang ganti. 

Rak-rak kayu di kamar ganti
     Dari puncak gedung yang menyerupai menara ini kami bisa melihat kolam-kolam indah di bawah kami. Dinding menara ini tak luput dari coretan-coretan tak penting dari tangan-tangan jahil yang belum bisa menghargai nilai peninggalan negeri ini. Entah apa yang membuat mereka berpikir coretan asal-asalan mereka menjadi penting di tengah-tengah sejarah nenek moyang mereka

Dari atas menara
     Setelah mengambil beberapa foto kami pun turun dan melanjutkan perjalanan menuju Sumur Gumuling. Untuk menuju Sumur Gumuling kami harus melewati rumah-rumah penduduk sekitar yang menurut pemandu lokal kami merupakan anak turun dari para abdi dalem. Kami memasuki lorong bawah tanah yang cukup lebar dan disetiap beberapa meter terdapat celah di langit-langit untuk masuknya udara dan cahaya. Terdapat sebuah kamar mandi dan juga tempat imam yang memimpin sholat di lorong itu. Lorong tersebut mengitari 5 cabang anak tangga dan tepat di bawah ke-5 cabang anak tangga tersebut terdapat sebuah sumur yang disebut sebagai Sumur Gumuling. Bapak pemandu kami (yang sayang sekali kami tidak tahu namanya) berbaik hati mengambilkan beberapa foto kami ber-4 :). Setelah berfoto kami pun melanjutkan perjalanan.

Ke-5 cabang anak tangga
     Kali ini kami menuju sebuah bangunan bergaya Eropa yang menurut pemandu kami merupakan semacam vila atau tempat tempat peristirahatan Raja. Jalanan semakin menurun dan yang cukup membuatku takjub adalah lokasi Taman Sari ini dikelilingi tembok-tembok tebal yang dulunya merupakan danau buatan yang tingginya sampai sebatas jendela bangunan-bangunan tersebut. Itulah mengapa lokasi ini disebut Taman Sari Water Palace! Bangunan-bangunannya dikitari oleh air dan Raja harus menggunakan perahu untuk mengunjungi lokasi ini. Namun sekarang air danau buatan sudah tidak ada dan rumah-rumah penduduk sudah memenuhi lokasi ini.

Reruntuhan Vila
     Bangunan bergaya Eropa itu walaupun hanya tinggal reruntuhan tapi masih menyisakan pesona kemegahan. Menurut pemandu kami, vila tersebut merupakan bangunan dengan dua lantai. Masih dapat kami lihat lubang-lubang untuk penyangga kayu lantai dua di kanan kiri dinding bangunan. Waaahhh aku bisa membayangkan betapa megahnya bangunan ini pada jamannya dan betapa hebatnya arsitektur bangunan, lorong-lorong serta danau buatan tersebut.

Celah atap vilaBagian dalam reruntuhan vila



     Matahari bersinar terik tetapi gerimis tipis membasahi jalanan ketika bapak pemandu kami menunjukan dermaga yang dulunya digunakan Raja untuk menaiki perahu dan mengunjungi vilanya. Dermaga ini sekarang juga menjadi rumah penduduk sekitar. Dan dermaga ini merupakan akhir perjalanan kami di Taman Sari ini. Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada bapak pemandu dan memberikan tip (besarnya tip sukarela, tetapi biasanya Rp. 30.000,-) kepada bapak pemandu. Kami sempat membeli es dawet sebelum pulang sambil mengistirahatkan kaki kami.

     Aku dan Getih sangat senang mengunjungi Taman Sari ini dan sangat tertarik dengan sejarahnya yang masih dapat kita dengar dari orang-orang lokal yang masih memelihara tempat ini. Terima kasih Mas Buyung dan Mbak Pilla sudah menemani kami berdua. Semoga kalian tidak kapok dan suatu saat bisa mbolang bersama lagi hehehehehe.

Bekas dermaga yang sekarang sudah menjadi rumah
 Hanya sejarah yang bisa mereka tinggalkan untuk kita
 Agar kita dapat belajar dari kehidupan mereka dan membangun hidup yang lebih baik
 Dan tugas kita adalah meninggalkan sejarah kehidupan kita bagi generasi mendatang
 Agar mereka belajar pula dari kehidupan kita saat ini
 Karena masa lalu menuntun kita untuk tidak tersesat di hutan yang sama

-Veronika

Tidak ada komentar:

Posting Komentar