Kamis, 22 Juni 2017

Air Terjun Semuncar, Kaki Gunung Merbabu

     Terkadang ingin pergi mengunjungi tempat-tempat wisata alam yang letaknya cukup jauh dari rumah tanpa sadar ada tempat wisata yang cukup dekat dengan rumah dan luar biasa indahnya. Mendapat info dari seorang teman kantor aku dan teman-teman mengunjungi sebuah air terjun bernama Semuncar. Air terjun ini berada di lereng Gunung Merbabu tepatnya di Desa Candisari, Ampel, Kabupaten Boyolali. Jika menggunakan kendaraan umum bisa turun di pasar Ampel dan melanjutkan perjalanan ke Desa Candisari dengan ojek. Untuk yang mengendarai kendaraan pribadi bisa langsung menuju Desa Candisari melewati jalan Pantaran. Tidak disarankan menggunakan mobil karena jalan relatif kecil. Air terjun ini memang terletak di Desa Candisari, tetapi base camp dimana kita memulai tracking menuju air terjun bertempat di Dukuh Wonolelo, Ngagrong RT 02 RW 08. Jangan lelah dan putus asa dulu menemukan base camp Semuncar karena sudah banyak papan petunjuk mengarah ke sana.
     Kami memulai tracking sekitar pukul 9 pagi karena kalau siang pasti sudah turun hujan dan pasti lebih berbahaya jika berjalan saat hujan, sungai-sungai pasti lebih deras. Tidak lupa kami berdoa dulu sebelum melakukan perjalanan.

 

    Beberapa menit dari base camp terdapat sebuah makam Syekh Maulana Ibrahim Maghrib. Kami mengambil jalan setapak di sebelah kiri makam dan menyusuri jalan tersebut. Track Awal berupa jalan setapak namun beberapa menit kemudian kami tiba di track yang berupa bebatuan besar sungai yang sudah kering. Ada sebuah nisan yang terletak di dinding sungai dan sering digunakan warga untuk bersembahyang, tetapi menurut penjaga base camp sebenarnya itu bukan sebuah makam sungguhan. Hanya sebagai tempat petilasan saja.


 

     Setelah berjalan sekitar setengah jam sungai-sungai yang kami lalui tidak lagi kering tetapi sudah mulai banyak air. Sepanjang perjalanan kami tidak bertemu seorang pun, mungkin karena tempat wisata air terjun ini belum banyak yang mengetahui atau mungkin juga medan yang harus dilalui untuk mencapai air terjun cukup berat. Ya medannya cukup berat. Kami tidak hanya melewati dinding sungai yang licin dan tinggi tetapi kami pun harus menggunakan tali untuk melewati beberapa jalur. Selama perjalanan kami juga melewati beberapa air terjun kecil.


 

     Karena track yang cukup sulit, beberapa kali kami harus berhenti untuk mencari jalan lain yang lebih landai dan tidak licin. Tetapi jalur satu dengan yang lainnya tidak jauh berbeda. Tidak jarang kami terpeleset, terjatuh, saling tarik dan dorong antara satu teman dengan teman yang lainnya. Tapi yang pasti kami tetap bersuka hati. Bagi kami yang tiap hari duduk dari pagi sampai malam di depan komputer, perjalanan ini sungguh-sungguh menyegarkan.


     Setelah kurang lebih 2 jam perjalanan kami sudah bisa merasakan hembusan angin yang kuat pertanda air terjun sudah dekat. Semakin semangat (dan semakin kepleset-kepleset juga :D) kami berjalan. Akhirnya setelah sekian banyak ngesot, merangkak, jatuh, kecebur, manjat, kecebur lagi akhirnya kami tiba di air terjun Semuncar yang indahnya luar biasa. Air terjun ini mirip dengan Curug Lawe yang ada di kaki Gunung Ungaran. Tidak deras tetapi airnya mengalir melewati tebing yang tinggi. Sungguh cantik sekali.

     Semua lelah terbayar sudah, secara spontan kami mengambil foto sebanyak mungkin. Foto narsis juga tentunya hahaha. Siang itu hanya kami satu-satunya kelompok yang mendatangi air terjun Semuncar, jadi berasa milik pribadi. Lelah kami memang terbayar, tetapi rasa lapar kami belum bisa terbayar hahahaha :D. Kami membuka bekal kami masing-masing dan saling berbagi makanan. Bu Re yang paling banyak bawa makanan, sungguh mulia hatimu bu hahahaha.


     Setelah puas berfoto, makan, bermain air, makan, ngobrol dan makan lagi kami pun berencana kembali ke base camp. Langit sudah gelap dan kami harus sesegera mungkin kembali, berlomba dengan hujan. Membayangkan harus melewati track yang berat sudah membuat kami lelah sebelum jalan hahaha, tapi apa boleh buat. We're still have a half journey to go! Sekali lagi kupandangi sepuas hati air terjun Semuncar yang tenang dan menawan itu dan kami pun beranjak pergi.
     Kurang lebih 2 jam, sama seperti waktu berangkat kami tiba di base camp. Kami sungguh beruntung, tepat ketika kami tiba di base camp hujan deras turun. Pengelola base camp terlihat serius bertanya apakah kami berpapasan dengan sepasang muda mudi sepanjang jalan pulang tadi. Setelah kami mengiyakan bahwa kami melihat mereka, pengelola base camp pun segera menyusul muda mudi itu untuk meminta mereka kembali. Pengelola base camp bercerita bahwa jika hujan lebat bisa berbahaya. Arus sungai bisa sangat deras bahkan beberapa tahun yang lalu sampai menghanyutkan jembatan desa mereka. Syukurlah muda mudi tersebut belum terlalu jauh dan segera kembali karena hujan memang cukup lebat.
     Jika kalian penyuka wisata alam cobalah jalan-jalan ke Semuncar. Pasti tidak akan menyesal. Have fun dan selalu jaga lingkungan! Selamat berwisata.

 
Sungguh sering kita hadapi kesulitan dalam hidup yang bahkan hampir membuat kita menyerah. Tetapi karena kupanggil kau dengan TEMAN maka tak rela kulihat kau jatuh. Tak perlu berteriak karena aku ada di sekitarmu, berlari ke arahmu ketika kau butuh.

-Veronika-

Kamis, 21 Januari 2016

Pendakian Gunung Merbabu (3.142 mdpl) Jalur Selo

     Beberapa bulan yang lalu posisi meja kerja di kantor diubah. Semua digeser dan dikelompokkan menurut project masing-masing, dan posisi mejaku yang sekarang sungguh syahdu. Dari kursi kerjaku bisa aku lihat dari kejauhan pemancar dan juga puncak Merbabu. Kebetulan beberapa teman berencana mendaki gunung Merbabu dan semakin menjadi-jadilah keinginanku untuk mendaki.
     Seperti kita tahu, manusia bisa saja menjadi sangat kuat mengalahkan masalah-masalah besar atau dapat menjelajah ke ujung-ujung gunung tertinggi di bumi, bahkan sanggup ke luar angkasa sana. Tetapi manusia juga dapat menjadi sangat lemah hanya karena sebuah masalah kecil yang menimpanya, membuatnya jatuh dalam keputusasaan. Ya, kali ini memang gunung Merbabu lagi yang kudaki, jalur Selo ini belum pernah kulewati sebelumnya, sama sekali asing. Tapi lewat jalur ini aku mencapai puncak Triangulasi sekali lagi setelah 2 atau 3 tahun yang lalu :).
    
Pemancar dari Puncak Triangulasi
     Kali ini aku tidak akan bercerita tentang bagaimana perjalanan pendakian kami, berapa lama kami menghabiskan waktu mencapai dari pos yang satu ke pos yang lain hingga mencapai puncak, atau bagaimana track yang harus kami lalui. Aku hanya ingin mengenang beberapa penggal perjalanan ke puncak Merbabu lewat foto-foto hasil jepretan sendiri dan dengan kamera handphone yang kupunya.
   

Persiapan pendakian

Pos II
      Perjalanan menuju puncak Merbabu ini merupakan perjalanan pendakian tepat sebelum aku menjalani operasi dan jujur saja perjalanan ini adalah salah satu perjalanan yang menguatkanku dalam menghadapi masa-masa sebelum dan setelah operasi. Pendakian lewat jalur Selo ini cukup berat buatku pribadi karena tidak terdapat mata air yang berarti kita harus membawa lebih banyak air dan jalur yang lebih panjang jika dibandingkan dengan jalur yang lain. Selain itu ada beberapa kejadian yang membuat aku pribadi sadar bahwa menjadi kuat itu adalah pilihan. Harus berlatih memang agar menjadi lebih kuat, tetapi kita harus memilih menjadi kuat atau kita akan tergilas kalah oleh masalah-masalah kita.



Padang edelweiss Pos III

Pos III
      Seperti dalam sebuah pendakian, bukan hanya puncak yang kita kejar. Tapi lebih kepada pencapaian perjalan kita setapak demi setapak. Luangkan waktu menoleh ke belakang dan lihatlah betapa banyak kaki kita sudah melangkah melewati tebing-tebing dan jalan terjal itu, dan banggalah akan itu. Sekuat dan seberani itu tubuh kita membawa ambisi untuk melewati masalah-masalah hidup kita.

Gunung Merapi dari track menuju puncak Merbabu
       Jika takut melangkah karena takut salah, sudah hajar saja. Pilih salah satu, putuskan yang mana saja. Lewati jalan yang menurut kita paling benar saat itu. Bekal kita cukup dan mental kita tinggi kawan. Karena tidak ada jalan yang salah. Semuanya pada akhirnya akan berujung pada sesuatu yang baru dan berakhir pada hal tak terduga lainnya. Jika berakhir salah jadikan sebagai pelajaran, jika berakhir menyenangkan jadikan sebuah penghiburan untuk jalan-jalan salah yang mungkin akan kita ambil dimasa depan. Semua jalan tidak sia-sia hanya menjadi kenangan, karena inti dari hidup adalah selalu belajar.


     Hahahahahaha....melow sekali pendakian kali ini. Mau apa? Memang itu yang dirasa (^_^). Terima kasih Merbabu akan pembelajaran yang berharga dan terima kasih teman-teman atas canda tawa serta perhatiannya selama pendakian. Kita kuat!!
Semoga segera bisa mendaki lagi!!!

Puncak Triangulasi Gunung Merbabu

-Veronika

Senin, 06 Juli 2015

Pendakian Gunung Sindoro Via Kledung (3.153 mdpl)

"Ma, hari Sabtu aku naik gunung ya."
"Gunung mana?"
"Sindoro."
"Lho, kok kesana lagi? Bukannya kapan hari sudah kesana?" Tanya Mama dengan wajah bingung.
"Kemarin kan Sumbing, Ma."
"Bukannya itu gunung yang sama?!"
"Beda, Ma."
"Halah, paling juga sama. Berangkat bersih, pulang mesthi reged kabeh wes ngono pincang neh mlakune. Ya wes ati-ati ya."

     Yes! Sudah dapat SIM (Surat Ijin Mendaki). Walaupun diomelin tapi aku tahu itu omelan sayang (^_^). Hati tidak tenang jika orang tua belum mengijinkan. Rasanya sudah ingin cepat-cepat packing peralatan di kos. Akhir minggu ini pas banget kerjaan testing selesai. Mendaki gunung Sindoro kali ini benar-benar seperti menjadi obat penat.
     Kali ini kami berangkat ber-9 menuju base camp gunung Sindoro yang terletak di Jalan Walisongo 1, RT 08 RW 03, Kledung, Temanggung. Base camp ini mudah ditemukan karena terletak dekat dengan jalan. Sudah hampir tengah malam ketika kami tiba di base camp. Tempat parkir cukup sesak dan beberapa kelompok pendaki yang sudah datang duluan memenuhi gedung base camp. Kami berencana akan bermalam dan memulai pendakian keesokan paginya.

Gunung Sindoro
     Pagi itu cerah sekali dan cuaca cukup dingin. Kami bersiap untuk memulai pendakian diawali dengan doa bersama dan tidak lupa kami membawa persediaan air sebanyak mungkin karena di gunung Sindoro tidak terdapat mata air. Pagi itu teman-teman menyempatkan pergi ke pasar untuk berbelanja sayur untuk dimasak di gunung nanti. Setelah sarapan kami pun kembali ke base camp untuk bersiap-siap.
     Kami memutuskan untuk jalan kaki dari base camp sampai Pos I. Jika kalian ingin menyingkat waktu bisa naik ojek yang disediakan penduduk sekitar dengan membayar sesuai tarif. Menurut info dapat menyingkat waktu kurang lebih 1.5 jam. Setelah semua siap kira-kira pukul 09:00 AM kami berangkat. Seperti gunung Sumbing, trek awal pendakiannya berupa ladang penduduk dan jalan batu yang ditata dengan rapi.
Peta Pendakian Sindoro Via Kledung
     Dengan berbekal peta dari base camp kami berjalan menuju Pos I, tetapi sebenarnya kami tidak menemukan dimana Pos I itu. Kami hanya melihat Pos ojek saja, tidak ada tanda-tanda tulisan Pos I. Atau sebenarnya pos ojek itu adalah Pos I? Entahlah, kami terus berjalan dan ketika sudah waktunya makan siang kami tiba di Pos II. Nafasku sudah ngos-ngosan dan kaki sudah mulai lelah maka kami memutuskan  istirahat di Pos II sekalian makan dan menunggu beberapa teman yang sholat. Nasi telur dan kering tempe yang kami beli di warung dekat pasar tadi terasa sangat nikmat, nyam!
     Setelah makan siang kami pun melanjutkan perjalanan. Tidak seperti dari Pos ojek sampai Pos II yang banyak bonusnya, trek menuju Pos III sudah tidak ada bonus dan semakin menanjak. Di Pos III terdapat banyak tempat untuk mendirikan tenda dan banyak sesemakan. Sebenarnya Pos III merupakan tempat yang baik untuk mendirikan tenda tetapi terlalu jauh dari puncak dan masih banyak kawanan babi hutan yang sering menyerbu sisa-sisa makanan. Tetapi tetap saja ada banyak orang yang mendirikan tenda di Pos III ini. Sempat aku dengar beberapa percakapan tentang serbuan babi hutan tadi malam. Tak bisa ku bayangkan kalau aku di kejar babi hutan hahahaha. Karena banyak orang mendirikan tenda di Pos III terdapat banyak sekali sampah yang menumpuk. Hal ini juga yang menyebabkan babi hutan datang pada malam hari. Mereka tertarik dengan bau makanan dan sampah-sampah yang dibuang sembarangan. Tidak ingin mengganggu dan diganggu kawanan babi hutan kami pun terus berjalan untuk mencari tempat yang lebih tinggi.


Sumbing dari SindoroSumbing dari Sindoro

     Kami sudah mulai menyusuri jalan berbatu terjal yang jarang pohon dan matahari pun sudah mulai condong ke barat, tetapi belum melihat tanda-tanda Pos IV. Waktu bahkan belum menunjukkan pukul 3 sore, tetapi hawa dingin sudah menyerbu. Semakin sering berhenti untuk beristirahat semakin terasa dingin. Tetapi apa daya karena memang jalanku pelan dan sering berhenti mau tak mau harus menahan dingin. Angin terasa berhembus cukup kencang tanpa ada pepohonan yang menghalangi. Beberapa teman kami yang berjalan lebih cepat mendahuluiku dan mencari tempat untuk mendirikan tenda.
     Sebelum matahari tenggelam tenda-tenda kami sudah berdiri dan segera kami menyiapkan makan malam. Selain perut sudah lapar kami harus terus bergerak agar badan tetap hangat. Sungguh dingin luar biasa ketika sinar matahari sudah tidak menyentuh tanah di sekitar kami. Setelah kenyang kami pun asyik mengobrol hingga mata ini terasa berat. Sering kali aku terbangun di tengah-tengah tidurku karena hawa dingin yang luar biasa. Bahkan lubang kecil di tenda kami terasa menyemburkan angin dingin ke dalam. Tapi puji Tuhan cuaca cerah dan tidak hujan. Sebenarnya kami sudah bersiap diri jika kehujanan karena ramalan cuaca di internet mengatakan akan hujan malam itu.

     Pukul 4 pagi mas Budi sudah memanggil-manggil berusaha membangunkan. Tapi mata masih berat dan dingin membuatku malas keluar dari tenda. Baru setengah jam kemudian aku berhasil mengalahkan kantuk dan malasku, berjalan menuju puncak. Aku membutuhkan waktu sekitar 1.5 jam berjalan menuju puncak, tentu saja teman yang lain jauh lebih cepat hahaha. Getih dan mas Buyung dengan sabar menemani langkah pelanku. 
     Ternyata Pos IV tidak jauh dari tempat kami mendirikan tenda. Setelah kedinginan dan nafas yang sudah mau putus rasanya kami pun tiba di puncak. Semua lelah tiba-tiba hilang kalau sudah di puncak. Mungkin kalian merasakan hal yang sama, rasanya badan sudah tidak kuat lagi tetapi semua lelah hilang ketika tiba di puncak.

    
     Puncak gunung Sindoro tidak nampak seperti foto-foto yang kulihat di internet selama ini. Di foto-foto itu nampak kawahnya digenangi air sehingga terlihat seperti danau. Tetapi kini kawah Sindoro sudah nampak aktif lagi. Bau belerang menyengat hidung dan asap serta lumpur panas memenuhi kawah yang dulunya terisi air. Banyak tanaman-tanaman kering di sekitar kawah karena kawah ini aktif kembali sejak sekitar tahun 2011. Selain kawah Sindoro yang walaupun tampak mengerikan tapi sekaligus indah, pemandangan dari puncak gunung Sindoro ini benar-benar luar biasa. Tampak jajaran gunung dari gunung Ungaran, gunung Lawu, Gunung Telomoyo, gunung Merbabu, gunung Merapi, gunung Sumbing dan bahkan si mungil gunung Andong. Senangnya hari itu sangat cerah dan semua gunung-gunung tampak jelas. Beberapa teman mengitari kawah dan kata mereka gunung Prau dan gunung Slamet juga terlihat jelas.

Kawah di Puncak Gunung Sindoro
     Tak lupa aku dan Getih berdoa di puncak sebelum turun. Sudah puas foto dan sudah puas bermain-main di puncak, kami pun turun untuk makan siang dan packing. Pukul 11 siang kami mulai menuruni gunung Sindoro. Turun memang tidak selalu lebih mudah dari pada naik. Berkali-kali aku terjatuh karena jalan licin berkerikil. Ditambah lagi banyak pendaki-pendaki yang entah kenapa mendirikan tenda di tengah jalan di sekitar Pos III. Tetapi hati senang karena melihat beberapa pendaki yang dengan semangat membawa turun sampah mereka. Tidak banyak yang begitu, tetapi ada. Memang kita naik gunung itu bayar, tetapi itu bukan alasan kita buang sampah sembarangan. Jangan jadi manja dan dengan mudah menghalalkan diri membuang sampah sembarangan hanya karena telah membayar. Ingat, kebersihan adalah sebagian dari iman. Ini bukan soal uang, tetapi soal kualitas pribadi masing-masing :)

Pemandangan dari tempat mendirikan tenda
     Sungguh senang bisa mendaki gunung Sindoro. Walaupun mama benar, badan dan baju kotor semua dan kaki juga agak pincang tetapi pengalaman memang berharga lebih bagi kita. Terima kasih Getih, pak Giana, mas Buyung, mas Budi, mas Aris, Refan, Eko dan Budi anduk sudah bersama mendaki gunung Sindoro. Akhir kata, meniru gaya bicara Budi yang entah bagaimana mengejanya dan apa makna sesungguhnya, kalian memang Sledug!!! hahahahaha..

Jajaran gunung dari puncak Sindoro
Info pendakian
1. Estimasi waktu kami:
  • Base camp - Pos ojek: 1 jam.
  • Pos ojek - Pos II: 1 jam.
  • Pos II - Pos III:1.5 jam.
  • Pos III - Pos IV: 3 jam.
  • Pos IV - Puncak:1 jam.
  • Total naik: 11 jam.
  • Estimasi jalan turun dari puncak kurang lebih separuh jalan naik, kira-kira: 4-6 jam.
2. Bawalah bekal air sebanyak mungkin karena tidak ada mata air selama pendakian.
3. Disarankan bermalam sebelum batas camp hutan lamtoro di atas pos III karena setelah batas camp tidak ada pohon dan angin cukup kencang.
4. Berhati-hatilah jika mendirikan tenda di sekitar Pos III karena masih terdapat babi hutan. Dilarang membunuh ataupun melukai babi hutan maupun hewan-hewan yang lain.
5. Waktu yang disarankan untuk berada di puncak gunung Sindoro adalah pukul 7 pagi sampai 12 siang.
6. Jangan lupa sampah dibawa turun ya mas-mas dan mbak-mbak pendaki yang budiman dan tidak manja :).

Selamat mendaki.
-Veronika

Kamis, 14 Mei 2015

Pendakian Gunung Sumbing Via Jalur Lama Garung (3.371 Mdpl) - Edisi Kehujanan

     Pernah aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak melakukan pendakian pada saat musim hujan karena beberapa kali mengalami kejadian kurang menyenangkan. Lagi pula kurang baik jika naik gunung kehujanan, bisa-bisa kita harus berhadapan dengan hipotermia. Walaupun teman-teman mengajak untuk mendaki ke gunung Merbabu yang paling ku sukai sekali pun aku tidak akan berangkat. Tetapi sore itu, di tengah-tengah musim hujan yang belum ada tanda-tanda akan usai ini teman-teman mengajaku dan Getih untuk mendaki ke gunung Sumbing. Mungkin karena ini pertama kalinya aku berencana ke Sumbing jadi tak bisa menolak :)
     Jumat malam jam 10 kami berangkat dari kantor ke base camp yang terletak di Desa Butuh, Dusun Garung, kecamatan Kalikajar, kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Kami berencana menginap semalam di base camp dan berangkat keesokan paginya.

Gunung Sindoro dari base camp Garung

     Semalam memang hujan deras tetapi pagi harinya cukup cerah dan gunung Sindoro tampak sangat indah dan jelas dari base camp Garung. Tetapi tidak seperti gunung Sindoro yang tampak cerah, Gunung Sumbing sudah diliputi mendung pagi itu. Yah terima nasib saja pasti akan kehujanan nanti. Sebenarnya kami berencana untuk mendaki lewat jalur baru, tetapi karena terjadi longsor dan jalur baru ditutup kami pun harus lewat jalur lama yang menurut informasi lebih terjal.

Gunung Sumbing dari base camp Garung

Foto dulu sebelum berangkat (^_^)

     Banyak sekali rombongan pendaki hari itu. Setelah berfoto bersama dan berpamitan dengan bapak pemilik rumah dan teman-teman pendaki yang lain kami pun segera berangkat. Dari base camp kami berjalan melewati rumah-rumah penduduk. Trek awal ini berupa jalan aspal dan jalan bebatuan yang disusun rapi. Seperti biasa, sudah bisa kubayangkan jalan berbatu rapi ini bakalan membuat dengkul senut-senut baik itu waktu berangkat maupun pulang hahaha.
     Di kanan kiri kami terdapat ladang para penduduk sekitar. Sebenarnya dari base camp ke Pos I bisa kita tempuh dengan menggunakan ojek dengan biaya Rp 25.000,- untuk naik dan Rp 20.000,- untuk turun (tahun 2015), tetapi kami memutuskan untuk jalan kaki saja karena ini pertama kalinya kami mendaki gunung Sumbing. Ingin bisa merasakan trek komplit :).

Jalan berbatu menuju Pos I
     Kami membutuhkan waktu kurang lebih 2,5 jam dari base camp ke Pos I. Trek awal ini benar-benar menguras tenaga. Kami berangkat 1 jam lebih awal dari pendaki lain dan waktu kami ngos-ngosan di tengah jalan pendaki yang lain menyusul dan bahkan jauh mendahului kami menggunakan ojek. Sakit. Haahahahahaha. Tapi karena dari awal kami sudah memutuskan untuk menapaki jalur dari awal sampai akhir jadi kami lanjut dengan ceria.
     Di Pos I terdapat shelter dan tak jauh dari situ terdapat mata air. Sebaiknya isi dulu bekal air kalian di sini. Trek menuju Pos II berupa jalur tanah yang juga merupakan jalur air hujan. Sangat licin dan kami harus sangat berhati-hati. Seperti yang sudah kami duga hujan pun mulai turun. Kombinasi jalur licin dan hujan deras memang tiada duanya. Masih semangat terussss!!! Kurang lebih 2 jam kami pun tiba di Pos II (Gatakan). Di Pos II ini kami berhenti untuk menunggu 3 teman kami yang akan menyusul kami. Jalan mereka cepat sehingga kami putuskan untuk menunggu di Pos II. Dengan badan basah kuyup kami pun membentangkan flysheet, mengikat ujung-ujungnya pada pohon dan berlindung di bawahnya sambil makan siang. 
     Sudah lewat 2 jam kami duduk menggigil kedinginan, ujung-ujung jariku sudah mulai keunguan. Berbagai gerakan sudah kami lakukan untuk menghangatkan tubuh tapi baju basah kami membuat tubuh tetap kedinginan. Ketika ujung jariku mulai mati rasa, Refan mengeluarkan kompor dan merebus air. Awalnya kami tidak tahu apa yang dia lakukan. Setelah air mendidih ia mengambil sehelai tissue basah dan mencelupkannya ke air panas. Dengan tissue basah hangat itu ia membasuh ujung-ujung jarinya dan bahkan tangan kakinya. Ah, ide yang bagus!!! hahahahaha. Segera kami menirukannya. Waaahh ujung-ujung jariku sudah tidak mati rasa lagi dan bahkan tidak berwarna ungu lagi. Kami menamai teknik menghangatkan tubuh ini "Teknik Sibin" hahahaha. Walaupun hangatnya tidak bertahan lama paling tidak jari-jari tangan dan kakiku bisa normal kembali. Bisa kutangkap tatapan aneh dari para pendaki lain yang melewati kami. Kalau dibayangkan pasti pemandangan yang konyol sekali, 5 orang basah kuyup dan tertawa-tawa dengan tissue basah menempel di badan kami.

Camping ground tepat di bawah Pestan
     Setelah 2 jam lebih yang serasa 2 tahun akhirnya ketiga teman kami datang. Senangnya bisa melanjutkan perjalanan. Sudah hampir pukul empat sore ketika kami berjalan menuju Pos III. Sebenarnya Pos III merupakan tempat yang cukup bagus untuk mendirikan tenda. Tetapi tempat sudah penuh, jadi mau tak mau harus terus naik. Hujan masih deras mengguyur dan trek setelah Pos III ini jauh lebih terjal lagi. Air mengalir deras membuat trek semakin sulit dilewati. Tak apalah badan basah kuyup asal baju dan alat-alat aman dan kering di keril.
     Kami memutuskan mendirikan tenda tepat sebelum Pestan (Peken Setan) atau Pasar Setan. Walaupun masih cukup jauh dari puncak tetapi matahari sudah mulai tenggelam dan kami tidak ingin berjalan di malam hari. Setelah tenda berdiri dan kami sudah kering dan hangat dengan canda tawa dan makanan hangat yang terasa 100x lipat lebih enak jika dibandingkan dimakan di rumah, kami pun masuk ke tenda kami masing-masing untuk beristirahat. Malam itu tenda kami dihajar hujan badai. Angin kencang terus saja bertiup sepanjang malam.
Gunung Sindoro dari Pestan Sumbing
     Rencana kami untuk summit attack jam 4 pagi pun gagal karena cuaca yang buruk. Pukul 8 kami mulai menuju puncak karena sayang jika tidak lanjut sampai puncak apalagi cuaca cerah setelah badai semalam. Baru berjalan kurang dari 15 menit kami sudah tiba di Pestan. Di Pestan yang berupa tanah lapang ini tidak dianjurkan untuk mendirikan tenda karena tidak ada pohon satu pun yang akan melindungi tenda dari angin.


     Setelah berjalan sekitar 30 menit kami pun tiba di Pasar Watu. Seperti namanya, Pasar Watu ini didominasi oleh batu-batu besar tetapi tidak sulit untuk dilalui. Tetapi setelah itu ada sebuah batu besar yang sangat miring di tengah-tengah jalan. Kalian yang pernah mendaki Sumbing pasti tahu batu ini. Harus berhati-hati karena di bawah batu miring ini terdapat jurang.

Pasar WatuTrek legendaris Sumbing

     Satu jam kemudian kami tiba di Watu Kotak yang kata orang dinamai demikian karena  bentuknya yang menyerupai kotak. Tapi dari apa yang kulihat lebih mirip persegi panjang hehehehe. Persediaan air sudah habis dan perut sudah mulai lapar. Badan mulai lemas karena haus. Untung saja terdapat air setelah Tanah Putih. Setelah minum air sebanyak-banyaknya serasa hidup kembali.
     Akhirnya...akhirnya setelah hujan badai kemarin dan jalan terjal berliku menuju puncak, kami pun tiba di Puncak Buntu 2 jam kemudian. Puncaknya cukup unik karena sebenarnya masih terdapat tempat lain yang lebih tinggi tetapi tidak bisa didaki dengan mudah. Rangga dan Pak Nando sudah berlarian turun ke kawah. Kakiku sudah lemas jadi tidak ikut, hanya memandang mereka dari Puncak Buntu saja. Wahhhh...pemandangan dari puncak Sumbing memang juara.

Puncak Buntu
     Konon katanya terdapat sebuah makam di Puncak Gunung Sumbing ini. Sebuah makam seorang Syeh yang bernama Syeh Kiai Makukuhan. Beliau disebut-sebut sebagai utusan Kerajaan Demak untuk menyebarkan agama Islam. Tidak, aku sendiri tidak melihat makam itu...mungkin belum beruntung :)

 
Pemandangan kawah dari Puncak Buntu
     Setelah puas berfoto di puncak kami pun segera turun. Puji Tuhan perjalanan pulang kami tidak diguyur hujan. Kami tiba kembali di base camp Garung sekitar pukul 9 malam dengan hati puas karena bisa mendaki dan turun dengan selamat dan dapat merasakan jalur komplit Sumbing. Badan boleh terasa sakit dan lelah tetapi semangat tetap membara. Siap beraktifitas kembali di hari Senin!

Berlari kecil kami di bawah rinai hujan
Entah air hujan entah keringat yang mengalir deras membasahi tubuh kami
Kami tak tahu
Tapi satu hal yang selalu kami tahu
Canda dan tawa kami mengalir hangat dari hati ke hati

-Veronika

Jumat, 20 Maret 2015

Gunung Api Purba dan Embung Nglanggeran

     Mengapa disebut sebagai gunung api purba? Karena gunung Nglanggeran yang terletak di kawasan Baturagung, di desa Nglanggeran Kecamatan Patuk Kabupaten Gunungkidul ini berumur kurang lebih 60 juta tahun dan tersusun dari bebatuan vulkanik. Ketinggian gunung Nglanggeran ini sekitar 200-700 mdpl. Memang tidak terlalu tinggi namun gunung Nglanggeran ini tidak seperti kebanyakan gunung-gunung di Jawa Tengah. Gunung Nglanggeran ini sebagian besar areanya berupa batu vulkanik dan tidak banyak terdapat pepohonan.

Pemandangan dari Gunung Api Purba Nglanggeran
      Memang untuk mencapai puncak gunung Nglanggeran ini tidak membutuhkan waktu yang lama namun tetap harus hati-hati dalam pendakian karena beberapa jalur curam dan licin, bahkan ada jalur yang harus melewati celah sempit diantara dua batu besar. Mungkin dulu dua batu besar itu merupakan satu batu yang bergeser dan pecah sehingga membentuk sebuah celah. Karena jalur pendakian tidak rata dan agak menanjak maka sebaiknya kenakan pakaian yang nyaman dan sepatu atau sandal yang tidak licin. Terdapat banyak tempat sampah yang disediakan pengurus lokasi wisata gunung api jadi tolong buanglah sampah pada tempatnya ya :)
     Kami membutuhkan waktu kurang dari 1 jam untuk dapat mencapai puncak. Karena sebagian besar jalur dekat tepian tebing maka berhati-hatilah karena angin kencang kerap kali berhembus. Siang itu panas terik matahari membuat keringat kami deras mengalir, tetapi pemandangan luar biasa serta angin yang berhembus membuat badan kami tetap segar.

Celah sempit di antara 2 batu besarPemandangan dari tepian tebing


Pemandangan dari puncak gunung Nglanggeran
      Menurut beberapa sumber nama gunung Nglanggeran ini berasal dari kata planggaran yang memiliki pengertian bahwa setiap kejahatan akan diketahui. Ada juga yang menyebutkan bahwa gunung ini memiliki nama lain yaitu gunung Wayang karena terdapat batu-batu gunung yang berbentuk menyerupai tokoh wayang walaupun aku dan Getih belum cukup beruntung dapat melihat bentuk-bentuk tokoh pewayangan itu sendiri. Mungkin kami kurang memperhatikan :). Terdapat sumber mata air Comberan di dekat puncak gunung Nglanggeran. Tapi sekali lagi kami kurang beruntung karena jalur menuju kesana entah ditutup entah jalan setapaknya tidak dapat kami temukan karena pada kenyataannya Getih mencoba berjalan ke mata air Comberan tetapi tidak menemukannya dan hanya dapat mendengar gemericik suara airnya saja. Tidak ada jalan menuju kesana. Semoga suatu saat kami dapat mengunjunginya.
     Terdapat dataran di dekat puncak yang biasa digunakan untuk camping area dan tempatnya cukup nyaman. Jika kami mendapat kesempatan mengunjungi gunung api purba ini lagi kami berharap bisa mendirikan tenda dan menginap untuk beberapa hari.

Embung terlihat di kejauhan dari puncak gunung api purba Nglanggeran

Pemandangan dari puncak gunung api purba nglanggeran
     Secara keseluruhan, jalur menuju puncak gunung Nglanggeran ini cukup mudah bahkan bagi anak-anak tetapi karena tebing-tebing yang curam dan angin yang cukup kencang diwaktu-waktu tertentu maka sebaiknya selalu berhati-hati.
     Tidak jauh dari gunung api purba terdapat sebuah embung yang bernama embung Nglanggeran, sama seperti nama desa tempat gunung api purba dan embung itu berada. Dari puncak gunung kami bisa melihat embung Nglanggeran dari kejauhan dan memutuskan untuk mampir. Walaupun matahari bersinar cerah pada sing hari namun semakin sore langit menjadi gelap karena mendung dan kami bergegas agar tidak kehujanan. Dari tempat parkir kami menaiki tangga untuk mencapai embung. Di embung Nglanggeran ini sering dijadikan tempat untuk melihat matahari terbenam. Walaupun sore itu mendung tetapi tetap saja banyak orang menunggu matahari terbenam. Tentu saja matahari terbenam dari puncak gunung Nglanggeran juga pasti akan sangat indah. Tapi hari ini kami tidak menunggu matahari terbenam karena rintik hujan sudah mulai turun.

Gunung Api Purba Nglanggeran dari embung
      Akan sangat menyenangkan berakhir pekan di gunung api purba dan mengunjungi embung Nglanggeran baik bersama teman maupun keluarga. Kegiatan tracking pada akhir pekan selalu membuat badan dan pikiran kami menjadi lebih segar dan siap untuk menghadapi apapun pada minggu berikutnya.

Embung Nglanggeran
Sehat selalu dan selamat berwisata!

-Veronika