Tampilkan postingan dengan label Candi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Candi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Maret 2015

Candi Sari, Peninggalan Asrama Para Biarawan Budha

     Sudah mengunjungi candi Kalasan? Akan lebih lengkap jika kita juga mengunjungi candi Sari yang letaknya tak jauh dari candi Kalasan. Awalnya aku dan Getih tidak tahu dan belum pernah mendegar tentang candi Sari ini. Bapak satpam yang bertugas di candi Kalasan lah yang menceritakan tentang candi Sari ini. Karena dekat maka kami tak ragu-ragu mengunjunginya.

Relief Candi Sari
     Candi Sari yang terletak di dusun Bendan, desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman ini merupakan candi bercorak Budha yang memiliki arsitektur bangunan bertingkat. Candi ini diperkirakan dibangun pada waktu yang sama dengan candi Kalasan yaitu sekitar abad 8 masehi. Seperti candi Kalasan, bangunan candi Sari ini juga dilapisi oleh bajralepo sehingga bangunannya nampak keputihan jika dilihat dari jauh. Untuk masuk ke candi Sari ini tidak perlu membeli tiket, kami hanya mengisi buku tamu dan memberikan uang kas seikhlasnya.

Candi Sari tampak belakangCandi Sari tampak depan
    
     Denah candi Sari ini berbentuk persegi panjang dengan ukuran 17.3x10 m. Bangunan candi ini dipisahkan menjadi 3 bilik dengan 2 pintu penghubung antar ruangan . Masih dapat dilihat susunan batu penyangga kayu lantai tingkat 2 pada masing-masing bilik. Candi Sari ini disebut-sebut sebagai asrama bagi para Sanggha (kelompok Bhikkhu). Sungguh ingin aku benar-benar tahu bagaimana wujud candi Sari ini ketika masih aktif digunakan. Seperti apa lantai tingkat dua, tangga, dan alat-alat apa saja yang berada dalam ruangan.
    

Batu penyangga kayu untuk tingkat 2Hiasan dinding di samping pintu bilik pada ruang tengah

     Puncak-puncak candi Sari yang berbentuk stupa ini sudah tidak lengkap lagi, entah hancur entah dicuri orang. Dinding luar candi dihiasi dengan pahatan relief-relief Bodhisatwa yang sedang berdiri dengan memegang bunga teratai dengan jumlah total 38 relief. Pada masing-masing kiri dan kanan jendela juga terdapat relief mahkluk kayangan yaitu kinara dan kinari (mahkluk bertubuh burung dengan kepala manusia).

Relief candi

Relief di kanan dan kiri jendela
     Tidak disebutkan seberapa banyak candi Sari ini dapat menampung manusia untuk tinggal di dalamnya. Lantai 2 bangunan candi Sari tidak pernah di bangun kembali. Akan sangat menarik jika lantai 2 dibangun kembali lengkap dengan tangganya sehingga pengunjung sungguh dapat membayangkan bagaimana bentuk asrama para Bikkhu ini di masa lalu.
     Menurut Syifa dan Aliya, 2 bocah cantik setempat yang sedang asyik dengan permainan monopoli mini mereka di pelataran candi, candi Sari ini sering kali sepi dan hanya ada beberapa pengungjung pada akhir minggu. Candi Sari ini unik karena merupakan bangunan asrama bukan untuk tempat pemujaan dan peribadahan seperti candi-candi kebanyakan.
Syifa dan Aliya



     Candi Sari ini termasuk salah satu candi yang bersih dari corat-coret tangan jahil dan semoga akan selalu bersih. Selamat berwisata!

-Veronika

Jumat, 27 Februari 2015

Keunikan Candi Kalasan, Yogyakarta

     Yogyakarta dan sekitarnya memang gudangnya candi. Dari kompleks candi yang luas dengan bangunan candi yang besar dan terkenal seperti Prambanan hingga kompleks candi yang lebih kecil dan lokasinya terpencil seperti candi Ijo. Kali ini aku dan Getih berkesempatan mengunjungi candi Kalasan yang terletak di desa Kalasan, Kabupaten Sleman, Provinsi Yogyakarta. Dengan menggunakan sepeda motor kami berangkat dari Salatiga mengikuti koordinat -7.767387, 110.472305 (7°46'02.6"S 110°28'20.3"E) pada google maps.
     Lokasi candi Kalasan ini tidak sulit dijangkau dan terletak tidak jauh dari jalan raya. Kesan pertama saat melihat candi ini adalah "cantik" dan "tinggi". Ya, candi ini cantik sekali menurutku. Selain bangunan candi yang menawan, rumput hijau yang memenuhi tamannya juga terawat. Ada sebuah pohon besar yang menaungi pelataran candi, membuat suasana lebih sejuk. Dari kejauhan sudah nampak ukiran-ukiran di dinding candi yang masih tersisa. Untuk memasuki lokasi candi Kalasan ini tidak dikenakan biaya tiket, kita hanya perlu mengisi buku tamu dan menyumbangkan uang kas seikhalsnya. Setelah sejenak mengobrol dengan bapak satpam penjaga pos masuk, kami pun segera berkeliling.


Salah satu pintu candi Kalasan dengan hiasan Kala

     Sisa bangunan candi Kalasan ini memiliki total tinggi 24 meter. Berdiri di atas batur setinggi 1 meter dan kaki candi setinggi 3 meter. Tubuh candi itu sendiri setinggi 13 meter dan atap setinggi 7 meter. Atapnya sudah tidak utuh tetapi masih dapat dilihat bentuknya yang menyerupai lonceng yang merupakan ciri khas dari candi bercorak Budha.
     Dalam sebuah prasasti yang berbahasa Sansekerta, berhuruf Prenegari dan berangka tahun 700 Saka atau 778 Masehi menyebutkan bahwa didirikan sebuah candi untuk menghormati seorang Budha wanita yaitu Dewi Tara (Tarabhawana). Pendirinya adalah seorang raja dinasti Syailendra yang bernama Rakai Panangkaran (Maharaja Tejapurnapana Panangkaran). Prasasti tersebut juga menyebutkan tentang pembangunan sebuah asrama bagi para Sanggha (kelompok Bhikkhu) yang dikaitkan dengan bangunan candi lain di dekat candi Kalasan ini yaitu candi Sari. Dikatakan dahulu terdapat patung Dewi Tara yang terbuat dari perunggu di dalam bangunan candi, tetapi sekarang sudah hilang entah kemana.
     Di pelataran candi terlihat banyak patung Budha, atau tepatnya sisa-sisa patung Budha yang kebanyakan sebagian tubuhnya sudah dipotong dan dicuri. Terdapat juga Jaladwara (seperti pipa saluran air yang berbentuk sejenis ikan atau makhluk air) yang seharusnya menjadi bagian dari bangunan candi ditata di pelataran candi.

Makara di kaki candiJaladwara

     Seperti kebanyakan candi yang lain, kami disambut oleh sepasang Makara di kaki candi. Badan candi yang berbentuk bujur sangkar ini berukuran 16.5 x 16.5 meter dan memiliki empat sisi dengan pintu di masing-masing sisinya untuk masuk ke ruang utama. Tangga untuk menuju ruang utama candi sudah runtuh dan untuk masuk kami harus berhati-hati memanjat sisa-sisa batu tangga. Terdapat beberapa relung-relung kosong yang dulu nampaknya berisi patung-patung. Ruangan dalam sedikit gelap tanpa ada sisa-sisa patung apa pun. Atap candi berbentuk segi delapan dengan beberapa tingkat. Sebenarnya baru kali ini aku melihat atap candi seperti ini.


Atap candi berbentuk segi delapanBagian samping candi

     Hal unik yang membuat candi Kalasan ini berbeda adalah seperti pada candi Sari, bangunan candi Kalasan ini dilapisi oleh semacam semen yang disebut sebagai bajralepa atau orang-orang Jawa sekarang menyebut dengan teknik nglepo. Menurut hasil penelitian, lapisan bajralepa itu terdiri dari 30% pasir kwarsa, 40% kalsit, 25% kalkopirit dan 5% lempung. Mungkin lapisan bajralepa inilah yang membuat dinding candi terlihat keputihan.
    Pahatan-pahatan di dinding candi Kalasan ini terlihat sangat indah. Pahatan sulur-sulur vertikal pada dindingnya memberikan kesan tinggi pada bangunan candi dan pahatan-pahatan relief nya yang halus menjadi bukti bahwa seniman di masa itu juga sangat berbakat.

Ukiran menawan candi Kalasan
Mengapa tak ku biarkan saja?
Biarkan mimpiku merunut pahatan sulur-sulur di dinding hangat terpapar matahari
Merunut tinggi hingga ke surga

-Veronika

Rabu, 26 November 2014

Kompleks Candi Dataran Tinggi Dieng, Wonosobo

     Siapa yang tidak kenal dengan Dataran Tinggi Dieng? Pemandangannya yang menawan, udara yang sangat sejuk, dan juga berbagai jenis makanan khasnya yang selalu menggoda selera. Tetapi bukan hanya itu saja, Dataran Tinggi Dieng juga menyimpan candi-candi yang indah dengan pemandangan yang sungguh luar biasa.
     Memang sungguh disayangkan bahwa candi-candi yang terletak di Dataran Tinggi Dieng ini tidak memiliki kelengkapan latar belakang sejarah yang jelas. Tertera di papan informasi bahwa candi-candi ini dibangun sekitar abad VII - VIII Masehi dan bercorak Hindu. Siapa yang membangun dan digunakan untuk apa belum begitu jelas. Nama-nama dari candi-candi ini mengambil dari beberapa tokoh wayang yang tidak jelas juga mengapa dinamai seperti itu. Berikut beberapa foto yang sempat saya ambil:

1. Kompleks Candi Arjuna

Kompleks Candi Arjuna
     Disebut kompleks karena di lokasi Candi Arjuna ini terdapat beberapa buah lokasi candi. Selain Candi Arjuna terdapat pula Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Sembadra, dan Candi Puntadewa yang lokasinya berdekatan dengan Candi Arjuna itu sendiri.

Kompleks Candi Arjuna
2. Candi Setyaki

     Tak jauh dari kompleks Candi Arjuna sekitar kurang lebih 200 - 250 meter terdapat candi lain yang bertuliskan Candi Setyaki. Sekali lagi, aku tidak tahu kenapa dinamakan Candi Setyaki. Ada beberapa bangunan candi yang sudah roboh. Beberapa orang bilang itu candi-candi kecil lain yang memiliki nama wayang juga, tapi mungkin saja candi-candi itu merupakan candi perwara. Walaupun semakin lama melihat-lihat candi di dataran tinggi dieng ini aku dan Getih semakin bingung tetapi kami tidak mau melewatkan satu candi pun :). Apalagi cuaca sedang cerah dan pemandangan sungguh menawan saudara!!!

Candi Setyaki

Candi Setyaki
3. Candi Gatotkaca

     Dengan semangat 45 kami melanjutkan menelusuri jalan kecil yang sudah di paving ke arah barat menjauhi kompleks Candi Arjuna. Tak berapa lama kami berjalan, kami pun tiba di sebuah candi yang lain yaitu Candi Gatotkaca. Candi ini terletak cukup dekat dengan tepi jalan dan berada di seberang  Museum Dieng Kailasa.
Candi Gatotkaca
4. Candi Bima

     Berdasarkan peta yang sempat kami lihat di peta di dekat tempat parkir masih ada 2 candi lagi yang letaknya tidak jauh dari kompleks Candi Arjuna. Setelah bertanya kepada bapak penjaga tiket di Candi Gatotkaca kami pun segera mengunjungi Candi Bima yang letaknya diluar kompleks Candi Arjuna. Menurut petunjuk bapak penjaga tiket Candi Bima ini tidak jauh dari pintu masuk Kawah Sikidang. Aku dan Getih sudah mengendarai motor perlahan sambil melihat kiri kanan sepanjang perjalanan dan tetap saja Candi Bima ini terlewatkan begitu saja. Kami memutuskan untuk berjalan terus ke Kawah Sikidang. Setelah berputar-putar sebentar di Kawah Sikidang kami pun memutuskan untuk mencari Candi Bima lagi. Setelah bertanya ke beberapa orang akhirnya kami menemukannya. Astaga, gedenya segitu kok dari tadi tidak terlihat!!!! Hahahaha.

Candi BimaCandi Bima

     Candi Bima ini berbentuk unik tidak seperti candi-candi lainnya. Bentuk bangunannya lebih ramping dan tinggi. Bentuk Candi Bima ini seperti Shikara (mangkuk yang ditelungkupkan) dengan relung-relung berbentuk tapal kuda dan kudu di dalamnya. Kudu merupakan arca berbentuk kepala manusia yang seolah melongok dari bilik jendela. Konon Candi Bima ini memiliki 24 buah arca kudu yang sudah separuh lebih hilang dicuri.

5. Candi Dwarawati

Candi Dwarawati
     Candi terakhir di Dieng yang kami kunjungi adalah Candi Dwarawati. Letak Candi Dwarawati ini lebih jauh lagi dari kompleks Candi Arjuna dan kawan-kawan. Candi Dwarawati ini terletak di pinggir perkampungan. Untuk menuju kesana kami harus melewati kampung dengan rumah cukup padat dan lahan-lahan pertanian warga. Candi ini sangat sepi pengunjung tidak seperti di kompleks Candi Arjuna.
Candi Dwarawati
     Dan kami pun sungguh puas berkeliling dan menikmati bukan hanya keindahan alam dan hawa sejuk pegunungan Dieng tetapi juga candi-candinya yang masih penuh misteri. Walaupun flu dan batuk menyerang tetapi hatiku sungguh riang.

Berfoto bersama pria-pria berkostum di Candi Arjuna :D
     Oh iya, di kompleks candi-candi yang cukup ramai terdapat warga sekitar yang menggunakan bermacam-macam kostum dari kostum tokoh wayang sampai kostum tokoh kartun yang siap diajak berfoto. Ada tarif setiap beberapa kali foto yang dijamin tidak mahal. Mereka mengaku akan siap foto bersama dari pagi hingga sore. Kita senang mereka pun senang :D, jadi jangan lupa berfoto dengan mereka ya. Selamat berkeliling Dieng!!!


-Veronika




Rabu, 01 Oktober 2014

Candi Cetho, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah

     Sekitar kurang lebih dua tahun yang lalu aku mengunjungi Candi Cetho ini dan kali ini aku memiliki kesempatan untuk mengunjunginya kembali. Candi Cetho ini berlokasi di Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar. Jalanan menuju Candi Cetho ini sudah beraspal dan berpemandangan sangat indah, tetapi sangat menanjak. Jadi kalau kalian berminat ke tempat ini jangan lupa pastikan kendaraan dalam keadaan baik. Untuk mencapai Candi Cetho ini bisa melewati kota Solo dan berjalan ke arah Tawangmangu. Banyak plang penunjuk jalan yang akan membantu menemukan lokasi.
     Tidak seperti candi-candi kebanyakan, Candi Cetho yang terletak di lereng gunung Lawu ini berupa bangunan teras berundak yang konon katanya berjumlah 14 teras tetapi pemugaran yang mampu dilakukan hanya 9 teras berundak saja. Candi ini bercorak Hindu dan dibangun pada masa akhir era Majapahit (abad 15 Masehi) yang mana sang Raja memutuskan untuk menyerahkan tahta kerajaan ke tangan penerusnya dan pergi ke lereng gunung Lawu ini. Sesaat aku teringat pendakian ke gunung Lawu beberapa bulan yang lalu dan sudah merasa sangat rindu untuk mendaki lagi.

Candi Ceto
     Hampir setiap teras berundak ditandai oleh gapura yang berbentuk mirip dengan gapura yang sering kita lihat di Bali. Pada pintu masuk pertama dapat kita lihat patung yang sering disebut sebagai arca Nyai Demang Arum. Aku sendiri tidak tahu dari mana asal nama itu dan apa kisah dibalik patung itu.


     Sesudah melewati patung Nyai Demang Arum kami menuju teras ke 2 yang berupa halaman dengan batu-batuan tersusun ditengah. Batu-batuan ini tersusun berbentuk seekor burung garuda yang dalam kepercayaan Hindu merupakan kendaraan Dewa Wisnu yang melambangkan dunia atas. Dapat dilihat juga bentuk-bentuk susunan batu seperti matahari, kura-kura (yang dipercaya sebagai titisan Dewa Wisnu yang melambangkan dunia bawah), dan juga bentuk alat kelamin laki-laki (sering disebut sebagai Kalacakra).
     Terdapat pula beberapa bentuk hewan yaitu katak, mimi (sejenis ikan yang selalu ditemui berpasangan sehingga dijadikan lambang kasih sejati), dan ketam (sejenis kepiting) yang kemungkinan besar menunjuk angka tahun Saka 1373 atau 1451 Masehi.


     Sebagian besar patung sudah tidak utuh dan hilang entah hancur atau dicuri orang-orang tidak bertanggung jawab. Teras-teras berikutnya dapat kita temui bangunan pendopo dan juga bangunan-bangunan menyerupai rumah yang di kanan kirinya terdapat patung-patung yang masih sering diberi sesaji.

Relief di Candi Cetho

Patung Candi CethoPatung Candi Cetho

     Aku sempat membaca kisah di Candi Cetho ini di papan informasi. Diceritakan tentang dua orang istri Kasyapa (seorang resi yang merupakan cucu dari Brahma). Sebenarnya Kasyapa memiliki 14 istri, tetapi di Candi Cetho ini hanya 2 yang diceritakan yaitu Kadru (ibu dari para Naga) dan Winata (ibu dari Aruna dan Garuda). Dikisahkan bahwa kedua istri Kasyapa ini bertaruh tentang warna ekor kuda pembawa Air Amarta dari pengadukan samudera susu. Kadru menebak bahwa ekor kuda tersebut berwarna hitam sedangkan Winata menebak warna ekor kuda itu putih. Sesungguhnya ekor dari kuda itu benar berwarna putih sesuai tebakan Winata namun anak-anak Kadru yang berwujud ular menyembur ekor kuda itu dengan bisa sehingga berubah warnanya menjadi hitam. Walaupun dengan cara yang curang namun Kadru memenangkan taruhan itu dan Winata menjadi budaknya.
     Kisah terciptanya Air Amarta yang adalah air kehidupan dan keabadian merupakan sebuah kisah yang sering disebut dengan Samuderamantana atau Sagaramantana. Kisah ini merupakan salah satu bagian dari sekumpulan cerita mitologi agama Hindu yang tergabung dalam naskah Adiparwa atau parwa pertama dari Mahabharata. Samuderamantana berawal dari usaha para Dewa dan Asura (rakshasa atau makhluk yang jahat dan memusuhi para Dewa) untuk mendapatkan Air Amarta dengan cara mengaduk samudera susu. Wisnu yang berhasil membujuk para Dewa dan Asura untuk bersama-sama memindahkan Gunung Meru dan melilitkan seekor naga raksasa Wasuki ke Gunung Meru itu dan menariknya dari dua arah. Asura memegang bagian kepala sedangkan Dewa memegang bagian ekor. Tetapi Gunung Meru itu tenggelam dan Wisnu berubah menjadi kura-kura raksasa untuk menopang Gunung Meru. Maka baik Dewa maupun Asura bekerjasama mengaduk samudera susu itu untuk mendapatkan Air Amarta.


     Selain kisah Samuderamantana terdapat juga kisah Garudeya (Garuda) yang menceritakan tentang usaha Garudeya membebaskan ibunya yaitu Winata dari perbudakan Kadru. Para Naga yang merupakan anak-anak Kadru mau membebaskan Winata jika Garudeya mampu memberikan Air Amarta kepada mereka. Dengan susah payah Garudeya mencari Air Amarta dan akhirnya dia bertemu denga Wisnu yang menyanggupi memberikan Air Amarta dengan syarat Garudeya mau menjadi kendaraan Wisnu. Setelah menyanggupi syarat tersebut, Air Amarta yang telah diberikan oleh Wisnu segera dibawa untuk diberikan kepada para Naga. Namun sebelum memberikannya, Garudeya berpesan agar para Naga mandi terlebih dahulu sebelum meminum Air Amarta itu. Akhirnya dibebaskanlah Winata dari perbudakan Kadru. Ketika para Naga mandi, Air Amarta diambil oleh Indra tanpa sepengetahuan para Naga. Ketika mengetahui bahwa Air Amarta hilang, para Naga pun sangat kecewa. Hanya tertinggal titik Air Amarta pada rumput ilalang dan berebutlah para Naga itu untuk menjilatnya. Karena rumput ilalang itu sangat tajam maka terbelahlah lidah para Naga menjadi dua sehingga membentuk cabang.
     Kedua kisah ini sungguh sangat menarik dan kami pun akhirnya tiba di teras teratas yang berupa dinding batu setinggi kurang lebih 1.6 meter. Kami tidak diperbolehkan masuk karena tempat ini menjadi tempat suci yang masih digunakan untuk beribadah oleh saudara kita umat Hindu. Senangnya bisa kembali ke Candi Cetho ini dan mengetahui kisah-kisah menarik yang tertuang didalamnya.


-Veronika

Minggu, 31 Agustus 2014

Candi Klero, Kabupaten Semarang

     Candi yang satu ini cukup dekat dengan kantor kami di Salatiga. Walaupun sangat dekat dengan kota Salatiga tetapi Candi Klero ini masuk wilayah Kabupaten Semarang. Candi Klero ini terletak di Desa Klero, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang. Cukup mudah untuk menemukan Candi Klero ini asal mata kita jeli melihat papan petunjuk. Jika dari arah kota Salatiga ke arah Solo pastikan melihat plang Candi Klero di kiri jalan sebelum jembatan pisah arah Solo. Setelah belok, tak lama kemudian kita sudah dapat melihat Candi Klero ini.
    Tengah hari aku dan Getih akhirnya tiba di Candi Klero ini. Walaupun Salatiga merupakan kota yang sejuk tetapi jika siang hari seperti ini tetap saja terasa panas. Tapi puji Tuhan tidak hujan :). Sabtu siang itu kami tidak membayar tiket masuk ataupun mengisi buku tamu karena loket tidak buka dan tidak terlihat satu penjaga pun disana. Tetapi pintu candi terlihat terbuka. Kami pun segera masuk.


     Taman di Candi Klero ini terlihat cukup rapi dan terawat. Hari itu beberapa orang tampak mengunjungi Candi Klero. Bangunan Candi Klero ini yang terdiri dari satu bangunan candi saja, merupakan candi yang bercorak Hindu, terlihat dari lingga yoni yang berada di dalam candi.


     Sayang sekali tidak terdapat informasi apa pun tentang asal usul ataupun sejarah pemugaran Candi Klero ini. Batu-batu pada candi ini sebagian besar bukan merupakan batu asli candi, jadi sudah terdapat banyak batu buatan untuk membantu membentuk Candi Klero ini. Sudah tidak terdapat relief gambar maupun patung-patung yang tersisa di Candi Klero ini, namun terdapat ukiran tulisan jawa kuno pada salah satu batunya yang sudah sulit untuk dibaca. Hmmm sayang sekali. Rasanya ingin sekali aku tahu apa cerita dibalik Candi Klero ini.

Tulisan Jawa Kuno di salah satu batu candi



      Sebelum datang ke Candi Klero aku sempat browsing berberapa blog yang memuat tentang Candi Klero ini. Pada sebuah blog aku sempat melihat ada sebuah lumpang dan juga batu panjang penumbuknya yang masih utuh. Blog itu ditulis pada tahun 2010. Yang membuat hati sedih adalah sekarang di tahun 2014, batu panjang penumbuk pasangan lumpang itu kami lihat sudah patah menjadi dua. Entah siapa yang telah merusak benda cagar budaya itu, yang pasti orang-orang seperti itu merupakan orang yang sungguh tak bertanggung jawab.

Batu tumbukan yang sudah patah jadi dua
Jika peninggalan jerih payah nenek moyangmu saja tidak dapat kau jaga,
bagaimana bisa engkau menjaga budaya dan eksistensimu saat ini?
dan jangan pernah berharap anak cucumu akan bisa menjaga dan menghargai jerih payahmu sekarang
karena kamu yang mereka tiru, ya..kamu yang tak bisa menjaga bahkan menghargai jerih payah nenek moyangmu.

-Veronika

Selasa, 08 Juli 2014

Taman Sari Water Palace, Yogyakarta

     Sudah sejak akhir pekan yang lalu aku dan Getih berencana mengunjungi Taman Sari di Yogyakarta. Kami gagal mengunjungi lokasi Taman Sari karena sudah terlalu sore. Dengan hati kecewa kami pun pulang ke Salatiga tanpa bisa mampir ke lokasi yang tutup pukul 15.30 WIB. Tetapi dengan sabar kami menunggu akhir minggu berikutnya dan berencana berangkat lebih awal agar bisa masuk ke lokasi.
Kali ini kami tidak berwisata berdua saja, ada Mas Buyung dan Mbak Pilla yang berdomisili di Yogyakarta yang akan mengantar kami. Kami tiba di kota Yogyakarta sudah siang sekitar jam 11.00 AM dan langsung makan siang di bakso yang gede banget di dekat rumah Mbak Pilla hehehehe. Setelah kenyang kami pun berangkat ke lokasi Taman Sari berbekal Maps yang selalu menemani.

Pintu masuk Taman Sari
     Taman Sari atau yang sering disebut dengan Taman Sari Water Palace ini terletak di Jl. Taman, Kraton, Kota Yogyakarta. Pengunjung bisa mulai memasuki lokasi Taman Sari ini dari Pukul 09.00 - 15.30 WIB. Kami mengandalkan Maps kami dan dengan mantap mengikuti petunjuknya. Kami cukup heran ketika Maps membawa kami memasuki gang-gang kecil dengan rumah-rumah yang cukup rapat. Apa iya ini jalan yang benar? Tak lama kemudian panah penunjuk di Maps sudah berada tepat di lokasi. Setelah melewati gerbang rendah kami pun terkejut karena ternyata kami sudah berada di dalam lokasi Taman Sari. Empat orang linglung dengan motor masuk ke tengah-tengah lokasi Taman Sari hahahahahaha. Setelah bertanya kepada seorang penjaga kami pun memutar arah untuk menuju tempat parkir sepeda motor. Akhirnya kami bisa lewat jalan yang benar dan memasuki lokasi Taman Sari dengan benar pula. Dengan tiket di tangan kami pun segera memasuki Taman Sari. Kami sempat bertemu doa bocah kecil yang rumahnya berada di sekitar lokasi Taman Sari ini. Mereka sedang sibuk mencari cara menurunkan sandal mereka yang tersangkut di pohon. Entah permainan apa yang mereka lakukan sampai-sampai sandalnya bisa tersangkut hahahahaha. Setelah membantu mereka mendapatkan sandal mereka kembali, kami pun melanjutkan perjalanan.

Getih bersama dua bocah lokal
     Taman Sari ini dibangun menggunakan pasir, putih telur dan air kelapa pada tahun 1756 dan selesai pada tahun 1765 pada masa pemerintahan Hamengkubuwono I. Ada sebuah lapangan kecil yang dulunya digunakan untuk tempat berkumpulnya para abdi dalem kerajaan pada hari pembagian upah. 


     Setelah memasuki gerbang kami dapat melihat kolam pemandian. Kolam pemandian ini dibagi menjadi tiga yaitu Umbul Kawitan yang digunakan oleh putra-putri Raja, Umbul Pamuncar yang diperuntukan bagi selir-selir dan Kolam Panguras yang digunakan khusus oleh Raja. 

Umbul Kawitan dan Umbul Pamuncar
Umbul Panguras

     Diantara kolam-kolam ini terdapat bangunan peristirahatan Raja. Di sisi kiri adalah kamar Raja yang tempat tidurnya terbuat dari bahan-bahan yang sama dengan bangunan Taman Sari itu sendiri dengan beberapa lubang kolong untuk memasukan arang sebagai penghangat ruangan dan tempat meletakan wewangian. Dahulu, dipannya terbuat dari bambu sehingga lentur dan dialasi oleh bantalan bulu angsa. Menurut yang aku amati, tidak banyak ornamen yang menghiasi dinding-dinding bangunan. Hanya pola pohon dan daun-daun serta burung-burung yang menghiasi beberapa dinding bangunan.


Pintu masuk kamar RajaTempat tidur Raja


     Sisi kanan bangunan atau seberang kamar Raja terdapat kamar ganti dengan rak-rak kayu. Kami menyempatkan diri menaiki tingkat dua bangunan ini. Tangga kayunya berada tepat di tengah-tengah antara kamar Raja dan ruang ganti. 

Rak-rak kayu di kamar ganti
     Dari puncak gedung yang menyerupai menara ini kami bisa melihat kolam-kolam indah di bawah kami. Dinding menara ini tak luput dari coretan-coretan tak penting dari tangan-tangan jahil yang belum bisa menghargai nilai peninggalan negeri ini. Entah apa yang membuat mereka berpikir coretan asal-asalan mereka menjadi penting di tengah-tengah sejarah nenek moyang mereka

Dari atas menara
     Setelah mengambil beberapa foto kami pun turun dan melanjutkan perjalanan menuju Sumur Gumuling. Untuk menuju Sumur Gumuling kami harus melewati rumah-rumah penduduk sekitar yang menurut pemandu lokal kami merupakan anak turun dari para abdi dalem. Kami memasuki lorong bawah tanah yang cukup lebar dan disetiap beberapa meter terdapat celah di langit-langit untuk masuknya udara dan cahaya. Terdapat sebuah kamar mandi dan juga tempat imam yang memimpin sholat di lorong itu. Lorong tersebut mengitari 5 cabang anak tangga dan tepat di bawah ke-5 cabang anak tangga tersebut terdapat sebuah sumur yang disebut sebagai Sumur Gumuling. Bapak pemandu kami (yang sayang sekali kami tidak tahu namanya) berbaik hati mengambilkan beberapa foto kami ber-4 :). Setelah berfoto kami pun melanjutkan perjalanan.

Ke-5 cabang anak tangga
     Kali ini kami menuju sebuah bangunan bergaya Eropa yang menurut pemandu kami merupakan semacam vila atau tempat tempat peristirahatan Raja. Jalanan semakin menurun dan yang cukup membuatku takjub adalah lokasi Taman Sari ini dikelilingi tembok-tembok tebal yang dulunya merupakan danau buatan yang tingginya sampai sebatas jendela bangunan-bangunan tersebut. Itulah mengapa lokasi ini disebut Taman Sari Water Palace! Bangunan-bangunannya dikitari oleh air dan Raja harus menggunakan perahu untuk mengunjungi lokasi ini. Namun sekarang air danau buatan sudah tidak ada dan rumah-rumah penduduk sudah memenuhi lokasi ini.

Reruntuhan Vila
     Bangunan bergaya Eropa itu walaupun hanya tinggal reruntuhan tapi masih menyisakan pesona kemegahan. Menurut pemandu kami, vila tersebut merupakan bangunan dengan dua lantai. Masih dapat kami lihat lubang-lubang untuk penyangga kayu lantai dua di kanan kiri dinding bangunan. Waaahhh aku bisa membayangkan betapa megahnya bangunan ini pada jamannya dan betapa hebatnya arsitektur bangunan, lorong-lorong serta danau buatan tersebut.

Celah atap vilaBagian dalam reruntuhan vila



     Matahari bersinar terik tetapi gerimis tipis membasahi jalanan ketika bapak pemandu kami menunjukan dermaga yang dulunya digunakan Raja untuk menaiki perahu dan mengunjungi vilanya. Dermaga ini sekarang juga menjadi rumah penduduk sekitar. Dan dermaga ini merupakan akhir perjalanan kami di Taman Sari ini. Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada bapak pemandu dan memberikan tip (besarnya tip sukarela, tetapi biasanya Rp. 30.000,-) kepada bapak pemandu. Kami sempat membeli es dawet sebelum pulang sambil mengistirahatkan kaki kami.

     Aku dan Getih sangat senang mengunjungi Taman Sari ini dan sangat tertarik dengan sejarahnya yang masih dapat kita dengar dari orang-orang lokal yang masih memelihara tempat ini. Terima kasih Mas Buyung dan Mbak Pilla sudah menemani kami berdua. Semoga kalian tidak kapok dan suatu saat bisa mbolang bersama lagi hehehehehe.

Bekas dermaga yang sekarang sudah menjadi rumah
 Hanya sejarah yang bisa mereka tinggalkan untuk kita
 Agar kita dapat belajar dari kehidupan mereka dan membangun hidup yang lebih baik
 Dan tugas kita adalah meninggalkan sejarah kehidupan kita bagi generasi mendatang
 Agar mereka belajar pula dari kehidupan kita saat ini
 Karena masa lalu menuntun kita untuk tidak tersesat di hutan yang sama

-Veronika